Jalan2Culture: Wayang Beber Kontenporer Ramaikan Hari Raya Saraswati 2013

Bersama Peradah Indonesia, Komunitas Wayang Beber Metropolitan dan para donatur acara

Jakarta, Sabtu (12/01) lalu adalah perayaan hari raya Saraswati bagi umat Hindu Indonesia. Hari Saraswati jatuh setiap 210 hari sekali dan dirayakan dengan mempersembahkan bebantenan, rangkaian janur sebagai lambang bakti kepada Tuhan Yang Maha Esa. Hari Saraswati kali ini jatuh sehari setelah hari Suci Siwaratri, hari perenungan dosa yang pelaksanaannya juga berlangsung secara khidmat. Umat Hindu mempercayai hari Saraswati adalah turunnya ilmu pengetahuan yang suci kepada umat manusia untuk kemakmuran, kemajuan, perdamaian, dan meningkatkan keberadaban umat manusia.



Kali ini saya hadiri perayaan Saraswati di Pura Aditya Jaya (PAJ) Rawamangun. Pada perayaan kali ini terasa berbeda karena saya dan teman-teman Perhimpunan Pemuda Hindu Indonesia (Peradah Indonesia) bersama-sama dengan Komunitas Wayan Beber Metropolitan, KPSHD Rawamangun, Sekolah Tinggi Agama Hindu Jakarta, Paguyuban Majapahit menyelenggarakan acara pagelaran wayang beber kontenporer pada malam sastra tepat tengah malan pada perayaan Hari Raya Saraswati. Dalam pagelaran Wayang Beber, sang dalang juga ditemani oleh dua narasumber, yaitu Dewa Ketut Suratnaya dan Eko Priyanto. Kedua narasumber mengambil intisari atau benang merah dari lakon Wayang Beber, ke dalam konteks kehidupan dan ajaran suci Weda.

Berbagai atraksi kebudayaan Bali yang menarik saat malam sastra



Wayang yang disakasikan ratusan umat Hindu Sejabdetabek ini mengkisahkan tentang sebuah negeri yang  bernama Negeri Beber. Digambarkan Negeri Beber adalah negeri yang panjang, pasir awukir, gemah ripah loh jinawi, tata tenteram, kerta raharja..pokok nya serja makmur, apa saja yang ditanam di negeri ini pasti akan tumbuh dengan bagus dan subur. Yang kemudian dalam perjalanan sang waktu, negeri beber justru berubah menjadi negeri yang sangat gaduh.

Cerita di negeri beber ini ingin mengangkat budaya luhur yang dimiliki Bangsa Indonesia sejak dahulu kala, Wayang Beber digelar bertepatan dengan pelaksanaan Hari Raya Saraswati, atau peringatan turunnya ilmu pengetahuan yang jatuh pada 12 Januari 2013, bertempat di Pura Aditya Jaya Rawamangun, Jakarta Timur.

Menurut Putu Aditya seperti yang di kutip tribunnews.com, koordinator penyelenggaraan acara, perpaduan malam sastra dengan Wayang Beber merupakan salah satu metode dalam memahami ajaran suci dalam Weda.“Kami berharap dengan adanya media Wayang Beber, ajaran dan pengetahuan suci Weda dapat lebih mudah dipahami,” ujarnya.

Persiapan Pagelaran Wayang Beber

Adanya media ini, lanjut Putu, peserta dapat lebih berinteraksi memadukan rasa dan pikiran, dalam pertunjukan yang sarat dengan ajaran-ajaran luhur, baik dalam kitab suci Weda maupun budaya bangsa.
Lakon dalam pagelaran Wayang Beber mengangkat cerita sesuai konteks kehidupan hari ini. Mengambil semangat perilaku dan etika dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa, tercetuslah lakon 'Laku Budhi Suluh Nagari' atau Labusuri.

Perpaduan audio visual modern yang dimainkan oleh Gede Ananta Wijaya serta permainan musik (gamelan) dengan menggunakan alat-alat yang sederhana seperti piring dan panci bekas juga seolah melengkapi kesederhanaan perlengkapan dari Wayang Beber, yang tidak membutuhkan begitu banyak alat-alat seperti pertunjukan wayang lainnya. Didukung oleh kru muda, Wayang Beber Metropolitan menjadi suluh di tengah derasnya arus yang menerpa budaya-budaya lokal milik bangsa.


Dalang Samuel in action


Wayang Beber adalah seni wayang yang muncul dan berkembang di Pulau Jawa. Dinamakan wayang beber karena berupa lembaran lembaran (beberan) yang dibentuk menjadi tokoh tokoh dalam cerita wayang baik Mahabarata maupun Ramayana. Wayang beber muncul dan berkembang di Pulau Jawa pada masa kerajaan Majapahit. Gambar-gambar tokoh pewayangan dilukiskan pada selembar kain atau kertas, kemudian disusun adegan demi adegan berurutan sesuai dengan urutan cerita. Gambar-gambar ini dimainkan dengan cara dibeber. Saat ini hanya beberapa kalangan di Dusun Gelaran, Desa Bejiharjo, Karangmojo Gunung Kidul, yang masih menyimpan dan memainkan wayang beber ini