Pameran Lukisan Penyandang Gangguan Mental

Jakarta - Sebutan "Orang gila" tentu tidak asing lagi di telinga kita...bahkan tidak jarang kita suka juga disebut "orang gila" ketika kita melakukan sesuatu diluar kebiasaan orang lain. Tapi disini kita akan membicarakan tentang stigma "orang gila"yang sebenar nya. Ada persepsi yang kita seringa dengar, keterbatasan harus nya bukan menjadi penghalang bagi seseorang untuk berkarya atau menciptakan sesuatu tidak terkecuali seni. Seni yang diciptakan oleh orang myag memiliki keterbatasan tersebut berawal dari ada nya kesempatan untuk berkarya dan tidak semua orang bisa mengerti. 

Saya mendapatkan kesempakan menyaksikan langsung beberapa orang yang mengalami keterbatasan mental dan dapan menciptakan katya seni dan tergbung dalam komunitas "Art Brut". Art Brut ini diasrtikan sebagai karya seni mentah (raw). Seperti yang diceritakan oleh sejarah kesenian dunia. Ada namanya Jean Dubuffet (1901-1985), seniman asal Perancis yang pertama kali menggolongkan jenis seni rupa yang diciptakan oleh penyandang cacat mental.


Dalam pagelaran pameran lukinas Art Brut di BBJ Kompas Sabtu (12/10) lalu Art Brut atau Rough Art, mengahdirkan Dwi Putro Mulyono Jati atau akrab disapa Pakwi (50). Obrolan saya dengan Bli Putu Fajar Arcana (Editor Kompas Minggu) dan Mas Nawa adik dari Pakwi ini bercerita bahwa Pakwi sejak umur sembilan tahun, mengalami penurunan pada fungsi pendengaran nya. 

Dan Pakwi sempat disekolahkan di SLB (Sekolah Luar Biasa) di Yogyakarta daaannnnn....nah ini salah satu yang menurut saya menjadi pemicu awal......saat Pakwi berusia 18 tahun dia jatuh cinta pada seorang gadis dan mengalami kegagalan cinta yang mengakibatkan terganggu nya kesehatan mentalnya mulai labil.

Pakwi in action

Akhirnya Pakwi bisa di simpulkan mengidap schizophrenia akut. Mas Nawa sebagai adik tidak henti-henti nya memberikan perhatian kepada Pakwi. Hingga pada suatu saat Mas Nawa melihat ada kelebihannya  Pakwi yang mulai nampak. Mas Nawa melihat Pakwi gemar menggambar dengan arang di tembok-tembok tetangga bertema lukisan gunung dan sawah. 

Lukisan bertema Wayang sepanjang 88 meter yang diselesaikan dalam tempo 4 hari, 15 jam, 40 menit


Akhirnya Mas Nawa berkeinginan mengarahkan kelebihan Pakwi dalam melukis, dengan menyediakan alat gambar agar Pakwi fokus perhatiannya lewat gambar. Dan ternyata Mas Nawa cerita kepada saya bahwa Pakwi berhasil membuat lukisan dengan arang dan cat di kanvas sepanjang 88 meter, lebar 120 cm, yang diselesaikan dalam tempo 4 hari, 15 jam, 40 menit. Lukisan ini semua nya berisikan gambar-gambar lakon wayang kisah Mahabharata.,

Hebatnya lukisan Pakwi yang diselesaikan dalam tempo 4 hari, 15 jam, 40 menit ini tercatat sebagai lukisan karya “Penyandang Gangguan Mental Melukis Wayang Terpanjang Nonstop” dan dicatat dalam Rekor MURI (Museum Rekor Dunia Indonesia).

Hebatnya Sketsa Mas Anto S.G

Saya bersama Mas Anto S.G dan karyanya

Salah satu peserta pameran lukisan yang saya kagumi juga adalah hasil karya Mas Anto S.G yang juga mantan penderita Schizophrenia atau gangguan mental. Ga sempat berceita banyak mengenai perjalanan nya sampai bisa sembuh, tapi kalo diliat hasil karya nya, membuat saya ingin memesan untuk dilukiskan foto....hebatt..!!