[Jakarta Spot] Kebun Binatang Ragunan masih Jadi Hiburan di Jakarta

Hari libur dipenghujung tahun 2015 ini memang panjang banget bayangkan Maulud Nabi tah 24 Des (kamis) dan Hari Natal (25 Des) Jumat, plus sabtu dan minggu. Top banget deh...hehehe. Terjadi eksodus besar-besar warga Jakarta menuju luar kota, hampir sama seperti Libur Lebaran. Dimana-mana macet terutama di jalan tol menuju jalur luar kota keluar Jakarta. Kaya nya Jakarta lagi diserang Zombie hahaha....liat nih foto-foto yang bersliweran di FB...

Nah ini suasana malam nya, gila kan? (foto by Gino Franky)



dan ini suasana Pagi nya di tanggal 24 Des arah tol dalam kota menuju Cikampek (sumber Facebook)
Dan gw pun hanya menikmati ini dari social media dan celotehan beberapa teman saya betapa sadis nya macet liburan kali ini. Bayangkan berangkan pk 09.00 pagi sampai Bandung bisa sampai pk 18.00....sadis!! Dengan macet seperti ini mereka harus membayar dengan liburan ga boleh yang biasa-biasa saja, harus liburan yang luar biasa...hahaha

Jalan Pagi di Ragunan

Dan gw walaupun hanya liburan di Jakarta saja menikmati sepi nya jakarta, gw pun melakukan hal yang jarang sekali gw lakukan kalo weekend, yaitu pergi ke suatu tempat di pagi hari yang belum pernah gw lakukan, ya gw pergi ke RAGUNAN ZOO hahaha....yes Kebun Binatang Ragunan! terus terang gw belum pernah ke Ragunan selama tinggal di Jakarta, bukan nya ga bangga dengan Ragunan, tapi macet nya itu kadang membuat gw trauma...hahaha

Loket masuk ragunan yang dijaga oleh relawan Pramuka


Sedikit tentang Ragunan:

Taman Margasatwa Ragunan didirikan pada tanggal 19 September tahun 1864 di Batavia ( kini Jakarta ) dengan nama “Planten en Dierentuin” ini pertama kali di kelola oleh perhimpunan penyayang Flora dan Fauna Batavia (Culture Vereniging Planten en Dierentuin at Batavia ).Taman ini berdiri di atas lahan seluas 10 hektar di Jalan Cikini Raya No 73 yang di hibahkan oleh Raden Saleh, pelukis ternama di Indonesia.



Setelah Indonesia Merdeka, pada tahun 1949 namanya di ubah menjadi Kebun Binatang Cikini. Dengan perkembangan Jakarta, Cikini menjadi tidak cocok lagi untuk peragaan satwa. Pada tahun 1964. Pada masa Gubernur DCI Jakarta Dr. Soemarno dibentuk Badan Persiapan Pelaksanaan Pembangunan Kebun Binatang untuk memindahkan dari Jl. Cikini Raya no 73 Ke Pasar Minggu Jakarta Selatan yang diketuai oleh Drh. T.H.E.W. Umboh.

(sumber Google)

Pemerintah DKI Jakarta menghibahkan lahan seluas 30 ha di Ragunan , Pasar Minggu. Jaraknya kira-kira 20 Km dari pusat kota. Kepindahan dari Kebun Binatang Cikini ke Ragunan membawa lebih dari 450 ekor satwa yang merupakan sisa koleksi terakhir dari Kebun Binatang Cikini.

Selanjutnya bisa dilihat disini

Nah akhir saya pun memutukan untuk berada di Ragunan ini sebelum pk 07.00 pagi mengingat hari libur, lebih pagi lebih baik untuk bisa menikmat suasana. Benar saja, begitu sampai banyak yang berolah raga dibanding wisata. Tau ga tiket nya berapa? Rp 4500 per orang dewasa, edaannnn murah banget...ga sampe $1 untuk berdua.



Menurut gw Ragunan ini punya potensi yang sangat besar untuk menjadi tidak hanya sekedar kebun binatang. Taman-taman nya jika dikelola dengan baik bisa menjadi nilai tambah. Gimana tidak, betapa mudah nya warga Jakarta untuk menuju tempat ini dengan transportasi publik, busway misalnya. Banyak sekali yang oleha raga pagi disini, mungkin bisa lebih baik dr Car Free Day yang sudah penuh banget kalo dijalanan.

Gimana ga enak tuh buat jalan pagi atau jogging? Oksigen banyak

Which way?

Banyak "kehidupan" yang bisa kita liat di Ragunan pagi hari. Selain pemandangan hewan, banyak juga momen-momen yang membuat kita kadang menerawang jauh untuk bertanya dalam diri. Kehidupan diluar kebiasaan harian kita. Gw suka foto, kenapa? karena dengan foto bisa menggambarkan perasaan kita terhadap suatu object foto (foto berbicara)

Seorang anak kecil menikmati suasana Ragunan

Ke Ragunan lo ga perlu khawatir kehausan atau kelaparan karena di setiap pojok ada yang jualan minuman dan snack. Tapi kalo mau ebih murah memang paling bener bawa dari rumah. Fyi para pedagang disini ada dua tipe, pedagang yang kontrak dan pedagang yang harian buka lapak di beberapa sudut tempat. Kalo kontrak mereka bayar Rp 10 juta per tahun (lumayan murah) dan yang jualan di lapak mereka bayar karcis per harinya.

Pedagang Kerak Telor khas Betawi di Ragunan

Salah satu pedagang yang buka lapak aneka gorengan

Kandang Orang Utan : asik lagi sarapan pagi

Hutan Bambu di salah satu sudut Ragunan
Yang bikin gw miris selama melihat Ragunan adalah kondisi hewan yang menurut gw kurang terawat dengan baik dan kondisi nya tidak sehat. Seandainya Pemda DKI serius menjadikan Ragunan sebagai kebun binatang bertaraf nasional, gw rasa Ragunan bisa dikelola dengan baik.


Sehingga fungsi konservasi, edukasi, penelitian, rekreasi alam, dan daerah resapan air bisa maksimal. Selain kaya akan keanekaragaman satwa juga maksimal. Padahal kebun binatang ini memiliki lima danau buatan dan hutan alami untuk mencegah banjir dan jadi paru-paru kota. Nikmat banget pasti kalo semua itu bisa dikelola dengan baik.

Karena udah mau rame, pk 09.00 akhir nya gw pun meninggalkan Ragunan....semoga Ragunan bisa lebih baik lagi kedepan nya