[Opini] SCREEN GENERATION VS SOCIAL MEDIA PARENTING

Saat kita (saya) kecil orang tua saya selalu berpindah-pindah kota untuk menjalankan tugas nya sebagai abdi Negara. Dan saya pun akhir nya seja usia sekolah sudah ikut pindah ke beberapa kota yang menuntut saya untuk selalu bertemu dengan lingkungan baru dan WAJIB untuk beradaptasi dengan lingkungan baru tersebut. Interaksi dan komunikasi terjadi secara instant, langsung dan real tanpa ada sekat. Berbagai macam permainan yang kaya akan interaksi pun saya lalui demi memperoleh teman bermain. Walau jaman saya kecil sudah ada permainan berbasis teknologi seperti  Atari, sega, game watch dan bahkan ding dong. Tapi buat saya dan teman-teman hal ini kurang menarik dan tidak seru. Bermain dengan lumpur, bermain di tengah rumput yang masih ada duri nya, tersesat saat bermain sepedah bersama, adalah keseruan tersendiri.

Saat ini pertumbuhan internet khusus nya social media sangat pesat di Indonesia. Anak- anak remaja Indonesia sangat nyaman menggunakan social media. Social media saat ini adalah sarana termudah untuk membagikan segala jenis informasi yang berasal dari sumber utama. The Wall Street Journal menyatakan bahwa , jumlah pengguna Facebook di Indonesia sampai dengan bulan Juni 2014 sudah mencapai angka 69 juta akun. Jumlah tersebut tentu saja sudah bertambah hingga Agustus 2015 ini.

Indonesia adalah salah satu Negara yang memiliki pengguna internet yang tercepat dan terbesar di dunia. Sepepetti yang di lansir oleh We Are Social sebuah agensi marketing sosial, mengeluarkan sebuah laporan dengan data bulan maret 2015 tentang data jumlah pengguna website, mobile, dan media sosial. Berikut perkembangan dunia digital Indonesia Terdapat lebih dari 72,7 juta pengguna aktif internet. Terdapat lebih dari 74 juta pengguna aktif media sosial, dimana 64 penggunanya mengakses media sosial menggunakan perangkat mobile dan > 308,2 juta pengguna handphone

Dari laporan tersebut, Facebook masih menjadi media sosial yang paling banyak digunakan, setelah Twitter, Google+, Linkedin, Instagram dan Pinterest di Indonesia. Kemudian WhatsApp menjadi aplikasi chatting yang paling digemari penduduk tanah air setelah Facebook Messenger, Skype dan Line.

Hal ini diperkuat pada saat CEO Facebook Mark Zuckerberg berkunjung ke Indonesia sekitar Bulan Oktober 2014 lalu, Mark mengatakan bahwa Indonesia merupakan pasar yang besar dan sangat potensial, karena jumlah tersebut terbilang baru sedikit bila dibandingkan dengan penetrasi internet dan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 240 juta orang. Sedangkan untuk pengguna Twitter di Indonesia seperti diungkapkan oleh CEO Dick Costolo sudah mencapai 50 juta anggota dan diyakini angka itu akan terus bertambah di masa depan.

Artinya betapa massif ya pengguna internet di Indonesia yang saat ini sudah melampaui sepertiga penduduk total Indonesia yang menurut Badan Pusat Statistik (BPS) berjumlah 255 juta jiwa. Terdapat 70 juta lebih pengguna internet dan social media di Indonesia. Berdasarkan letak domisili, 78,5% dari total seluruh pengguna internet di Indonesia tinggal di wilayah Indonesia bagian Barat. Dan ini terkait dengan fasilitas infrastruktur yang lebih tersedia dan siap di kawasan Indonesia Barat.

Beberapa waktu lalu saya sempat bertemu dengan beberapa rekan praktisi social media membicarakan mengenai perkembangan internet di Indonesia dan lebih specifik nya lagi adalah pengguna socmed di Indonesia. Salah satu yang menjadi topik utama saya dalam pembahasan itu adalah betapa besar nya pengaruh internet dan socmed dalam pembentukan karakter anak/remaja di Indonesia. Betapa “mengerikan”nya efek internet dan socmed.

Data menarik lainnya adalah usia pengguna internet di Indonesia berusia antara 18-25 tahun, dengan jumlah sebesar setengah dari total jumlah pengguna internet di Indonesia (49%). Artinya, segmen pengguna internet di Indonesia adalah mereka yang termasuk ke dalam kategori generasi millenial. Generasi milenial adalah generasi yang lahir di era 1980an, ketika teknologi komputer dan internet mulai dipergunakan.

Perlunya Socmed Parenting
Berdasarkan penilaian saya sehari-hari dan saya pun secara tidak langsung mengalaminya, pengaruh secmed sudah sangat dalam bagi kehidupan seseorang tertama anak-anak (usia remaja). Socmed pada remaja (usia 13 – 20 tahun) adalah merupakan usia dimana mereka sedang bersemangat nya untuk mencari jati diri dan pembentukan karakter pribadi. Mereka akan secara aktif mengumpulkan dan mengolah informasi dari manapun tanpa terkecuali, dan merekan akan melakukan pemilahan seacara alami informasi tersebut.

Kebutuh sosok atau panutan lain di luar orang tua dan keluarga menjadi tinggi. Proses pencarian ini dipermudah oleh berbagai macam cara dan salah satu kemudahan nya adalah Social Media. Melalui Social Media, Informasi yang “liar dan bebas”mendominasi pembentukan pembentukan pola pikir, pembentukan karakter, kepribadian, gesture dan body language, kemampuan berkomunikasi dan berinteraksi dengan lingkungan sekitar, dan berbagai macam hal yang merupakan dasar pembentukan karakter manusia saat ini dipenagruhi oleh social media 

Screen Generation, itu sebutan yang saya mention untuk anak-anak yang saat ini,bahkan dimulai saat balita (usia 2 – 10 tahun) yang sudah dijejali dengan aplikasi dan games-games dari handphone, tablet maupun konsol game serta usia remaja (10 – 20 tahun) yang dijejali oleh social media.

Bahkan saat ini orang tua pun cenderung dibuat kewalahan akan kebisaan anak dan remaja nya yang mementingan berinteraksi melalui “Screen” (internet & social media) dibandingkan dengan interaksi social dengan lingkungan nya secara nyata. Bahkan interaksi dengan orang tua sendiri menjadi terbatas. Atau bahkan sebalik nya, otang tua pun memiliki kebiasaan yang sama dengan anak nya untuk selalu attach dengan socmed dan gadget nya. Inilah salah satu permsalah saat ini sedang ngetrend.

Salah satu efek yang ditumbulkan oleh kebiasaan ini adalah si anak (terutama di bawah usia 10 tahun) akan sangat sulit untuk focus dalam mengejakan sesuatu dan akan mudah bosan dengan suatu kegiatan. Si anak tidak akan mau menyelesaikan suatu kegiatan tertentu hingga selesai.
Social media, adalah tahap selanjut nya ketika si anak sudah mulai memasuki tahap remaja dan mulai mengenal pergaulan. Keiinginan untuk  bergaul dengan cepat, medorong si anak untuk “mengkonsumsi” informasi dengan cepat, instan berasal dari sumber yang “dianggap”kredibel, semua itu ada di socmed. social climber pun dimulai

Peg Streep, seorang pemerhati tren digital dan remaja, menuliskan ada empat alasan utama mengapa remaja saat ini menjadi maniak media sosial, seperti dilansir dalam situs Psychology Today. Mencari dan mendapatkan perhatian, anak-anak “Socmed Generation” saat ini memiliki kesenangan tersendiri ketika mendapatkan pengakuan dan perhatian public sekitarnya. Hasil penelitian dari Pew Research Center Study, AS, menunjukkan bahwa sebagian besar remaja berbagi informasi di sosial media.

Berbagi (shared) informasi menjadi kunci bagi mereka untuk mendapatkan perhatian bagi diri mereka sendiri. Semakin cepat mereka share informasi terkini, makan mereka akan semakin “diakui”sebagai celebrities social media. Bahkan kadang mereka seringkali mengeluhkan tentang oversharing yang dilakukan pengguna media sosial ain. Padahal, mereka sendiri juga terjebak di dalamnya. Mereka berbagi begitu banyak hal (bahkan yang bersifat pribadi) di dalam media sosial.

Banyak yang curcol di sosmed. Curcol (curhat colongan) di medsos dianggap sebagai salah satu upaya pengurangan beban pikiran dan uneg-uneng mereka. Padahal ini oleh pengguna sosmed lain adalah “Nyampah”. Tapi kalo yang curcol adalah public figure, ini akan menjadi menarik dan BAHKAN menjadi lead sebuah pemberitaan. Hampir sama speerti yang dialami oleh keluarga Kridayanti (KD) dan anak-anak nya yang baru- baru ini menhebohkan dunia socmed tanah air.


Mencari opini dan pendapat. Remaja saat ini seringkali meminta pendapat dan persetujuan rekan-rekannya untuk memutuskan sesuatu. Itu wajar jika di dunia nyata. Namun, dengan adanya media sosial, mereka menjadi meminta pendapat untuk hal yang tidak penting alias ingin “terlihat penting” Contohnya, mereka sering up load foto-foto untuk sekadar melihat bagaimana komentar rekan-rekannya. Semakin dipuji atau hanya sekadar “Like” di Facebook akan membuat mereka merasa populer. Dengan kata lain, media sosial menjadi indikator kepopuleran meraka. Pada remaja,populer di media social adalah kepuasan tersendiri.

Pencitraan. Media sosial adalah sarana komunikasi yang “tidak ideal” jika dibandingkan dengan komunikasi langsung (face to face). Karena social media tidak akan mampu mendeskripsikan pribadi seorang pengguna secara utuh. Tidak ada ekspresim tones dan gesture yang terlihat dalam berkomunikasi. Oleh sebab itu, remaja menjadikan media sosial sebagai penumbuh citra positif mereka hanya berdasarkan tulisan saja. Remaja akan cenderung memberikan kesan yang baik saat di media sosial. Mereka berharap orang lain melihat mereka seperti apa yang mereka harapkan.

Kecanduan Social Media. Media sosial cenderung secara tidak sadar membuat remaja kecanduan. Mereka akan sulit untuk focus terhadap sesuatu dan cenderung sulit mengalihkan pandang dari social media. Mereka “terjebak" dalam lingkaran drama media sosial. Banyak perilaku remaja yang menimbukan dilematisme seperti: meski mereka terus mengeluh tentang "drama" dalam media sosial, kenyataannya mereka adalah juga pelaku drama itu sendiri.

Parenting atau bimbingan orang tua sangat dan harus semakin ketat dalam mengawasi penggunaan internet dan social media anak-anak nya. Ketat disini BUKAN seperti layak nya polisi, malah runyam nanti hubungan dengan anak. Lakukan pendekatan yang friendly dengan anak, jika perlu orang tua perlu buatlah akun socmed yang “disamarkan” atau malah mungkin terang-terangan.

Berkomunikasilah di socmed layaknya teman dan sahabat, JANGAN JUDGING di socmed. Orang tua sering kali lupa “daratan” jika sedang melakukan “evaluasi” terhadap perilaku si anak di socmed, hindari komen-komen “menyerang”yang dilakukan di ranah public terutama di timeline (lini masa) si  anak. 

Lindungilah keluarga anda dengan beromunikasi dengan baik, bertanggungjawab dan terbuka